Tugas 4 Ilmu Budaya Dasar (IBD), Manusia dan Keindahan Berbagai pengertian tentang keindahan


Keindahan atau “beauty” adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok.Keindahan juga dapat memberikan kita rasa keingintahuan tentang hal tersebut semakin terus bertambah.contohnya jika kita bermusik,kita akan semakin mencari ‘feel’ apa yang cocok untuk hati kita. Keindahan tak mesti sesuatu yang enak dipandang. Keindahan hanyalah sebuah bias dari indera penglihatan yang mampu menipu dan relatif bagi tiap individu. Keindahan bisa berarti memang indah atau sugesti dari luar yang tak mampu ditolak oleh syaraf otak manusia. keindahan bukan cuma dilihat, tapi saya rasa dgn panca indra : jadi juga bisa dirasakan kulit, didengar telinga, dikecap lidah, dll…. Sejatinya keindahan itu bukan saja enak dilihat dan di pandang mata ,misalnya hamparan sawah yang menghijau atau indahnya alam pegunungan dan sejenisnya.

Bukan itu saja indah menurut saya adalah disamping elok di lihat tapi juga enak dirasakan .Seperti misalnya sebuah syair atau puisi yang enak untuk dinikmati ,itu juga adalah keindahan. Semua yang ada didunia ini adalah keindahan semu yang pada akhirnya akan hilang musnah ditelan waktu.Keindahan sejati adalah keindahan yang telah dijanjikan oleh Sang Pencipta yaitu Syurga teman.
Keindahan Alam

Semua yang tampak bagus didunia ini merupakan suatu keindahan yang dapat dilihat karena fisiknya saja ,tapi apakah keindahan itu dapat bertahan lama …..?. Perkembangan teknologi didunia ini memang telah mengubah dunia yang tadinya terlihat hijau dan segar menjadi kumpulan hutan gedung yang tak bisa dihitung lagi berapa jumlahnya ,walaupun gedung –gedung tersebut dibangun secara indah dan enak dipandang mata .

Keindahan apapun yang telah dibuat dengan mengeluarkan uang yang banyak dan teknologi yang mutakhir pun tak akan dapat mengalahkan keindahan yang telah diciptakan oleh Tuhan YME .Karena keindahan yang telah Allah SWT ciptakan merupakan keindahan yang mutlak , seperti keindahan alam yang mungkin kita sering melihatnya jika kita sedang berwisata ke daerah pegunungan ,pantai dan lain sebagainya.

keindahan yang diciptakan oleh manusia atau bisa dibilang keindahan buatan memang suatu kemampuan yang harus diacungi jempol , tapi keindahan tersebut hanya terasa sebentar, lain halnya dengan keindahan yang diciptakan oleh Tuhan ,keindahan tersebut dapat menenangkan jiwa dan akan terasa sangat lama bila kita menikmatinya lebih dalam . Oleh karena itu kita sebagai manusia yang dianugrahi pikiran harus berkaca kembali pada apa yang telah kita lakukan akan alam didunia ini dan kita pun harus menjaganya agar keindahannya tak sekejap hilang oleh kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi . Contoh –contoh keindahan alam yang ada di laut………………………:

Terumbu Karang

Terumbu karang merupakan ekosistem laut dangkal yang sangat produktif dan khas terdapat di daerah tropis. Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif terutama kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh organisme karang (filum Scnedaria, kelas Anthozoa, ordo Madreporaria Scleractinia), alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat, (Nybakken, 1992). Unit dasar dari pembentuk terumbu adalah polip karang yang bersimbiosis dengan alga yang hidup pada jaringan karang. Hubungan simbiosis ini adalah faktor kunci yang menjelaskan persyaratan lingkungan yang ketat bagi pertumbuhan karang karena alga yang bersimbiosis ini memerlukan cahaya untuk melakukan fotosintesis dan dengan mudah dapat di musnahkan oleh sedimentasi.

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat tinggi produktivitas organiknya dibandingkan dengan ekosistem lainnya dan juga keanekaragaman hayatinya. Selain memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, tempat pengasuhan dan bermain bagi berbagai biota; ekosistem terumbu karang juga menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, dan kerang mutiara.
Selain itu, terdapat beberapa spesies yang berasosiasi dengan terumbu karang – anemon laut, kuda laut, dan lain-lain – yang merupakan bahan pembuatan obat-obatan seperti antibiotik, anticoagulant, antileukemic, cardioactive, dan penghambat pertumbuhan kanker.

Selain itu, terumbu karang merupakan sumber dari pembuatan hiasan dari karang (ornamental corals); karang yang luas dan batu kapur karang yang keras digunakan sebagai bahan pembuatan jalan dan bangunan serta bahan baku industri. Karang batu juga ditambang secara intensif untuk pembuatan kapur. Kegunaan tersebut di atas sering menimbulkan konflik dengan kebutuhan untuk memelihara terumbu karang guna mendukung produksi ikan dan mempertahankan struktur fisik terumbu yang berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap abrasi. Pengeksploitasian terumbu karang dengan jalan mengambilnya akan mengakibatkan terjadinya kerusakan habitat ikan dan berbagai hewan laut lainnya. Selanjutnya, tutupan karang menjadi berkurang dan pada akhirnya menurunkan tingkat produktifitas organisme yang berdiam disana. Lebih dari itu, keindahan pemandangan taman laut akan memudar sehingga peranan terumbu karang sebagai atraksi wisata akan menghilang dan berpengaruh negatif terhadap penerimaan devisa melalui pariwisata bahari.

Terumbu karang di perairan laut Indonesia diperkirakan seluas 75.000 km2 (Direktur Bina Sumber Hayati, 1997) dengan potensi lestari sumber daya ikan sebesar 25-45 ton/km2/tahun pada kondisi yang masih baik. Pada kondisi terumbu karang yang mengalami kerusakan berat produksi ikan akan turun secara drastis menjadi sekitar 2-5 ton/km2/tahun. Pada terumbu karang yang baik panenan lestari yang dianjurkan adalah 20 ton/km2/tahun, (Soekarno et. al, 1995). Jika terumbu karang di Indonesia sebagian besar dalam keadaan baik maka dapat dibayangkan betapa besar produksi ikan yang bisa dihasilkan setiap tahun.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa tinggal 7 persen dari seluruh terumbu karang di Indonesia yang kondisinya sangat baik, sementara sisanya sebagian besar dalam keadaan jelek dan sangat jelek, (Suharsono, 1996). Jika dihitung secara ekonomis maka nilai terumbu karang saat ini kurang lebih 70 ribu dolar Amerika per kilometer persegi dari hasil perikanan, pariwisata dan sebagai pelindung pantai terhadap abrasi. Total nilai terumbu karang Indoneisa paling sedikit 4,2 miliar dolar Amerika yang setiap tahun mengalami penurunan paling sedikit 12 juta dolar akibat kerusakan. Jika penangkapan dengan racun diganti dengan cara yang ramah lingkungan maka keuntungan yang akan dicapai diperkirakan sebesar 14,8 juta per tahun, (Republika, 12 Februari 2000).Walaupun memiliki banyak kelebihan dan kegunaan, terumbu karang merupakan ekosistem yang rapuh dan mudah rusak akibat tekanan dari aktifitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa faktor penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang secara tidak langsung yang berasal dari aktifitas manusia adalah sedimentasi, limbah industri dan rumah tangga, limbah air panas, hydrocarbon, pestisida, herbisida dan limbah radio aktif. Sementara faktor penyebab secara langsung kerusakan terumbu karang akibat perbuatan manusia adalah penambangan batu karang untuk pembuatan kapur dan penambangan pasir; pengambilan karang dan kerang untuk koleksi dan perdagangan; penangkapan ikan dengan jaring murami, racun, tombak, dan bahan peledak; dan dampak sampingan dari pengembangan pariwisata seperti pembuangan jangkar pada saat menyelam, menginjak karang bagi penyelam pemula dan sebagainya.

Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang-surut air laut dan dipercaya memiliki fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove adalah sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai macam biota, penahan abrasi, amukan angin taufan, dan tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, dan sebagainya. Secara ekonomis hutan mangrove berfungsi secara langsung sebagai penyedia kayu yang dapat dipergunakan untuk berbagai jenis konstruksi bangunan, kayu bakar, arang, bahan kertas, dan lain-lain. Sementara daun-daunannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan, pupuk untuk pertanian, dan sebagainya. Adapun secara tidak langsung, hutan mangrove merupakan tempat rekreasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata alam (ecotourism) yang menarik seperti yang telah dikembangkan di banyak negara antara lain Malaysia dan Australia. Kedua kegunaan secara langsung tersebut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat pesisir di seluruh Indonesia, sementara kegunaan secara tidak langsung belum dikembangkan dengan optimal.

Indonesia terkenal memiliki hutan mangrove luas dan sangat kaya dengan keaneka-ragaman hayatinya. Luas hutan mangrove di Indonesia tercatat sebesar 5.209.543,16 ha pada tahun 1982 dan kemudian mengalami penurunan menjadi sekitar 2.496.185 ha pada tahun 1993, (Dahuri, 1996). Sementara itu, keragaman jenis yang dimiliki oleh hutan mangrove di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dengan total spesies sebanyak 89, terdiri dari 35 spesies tanaman, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit, 5 spesies terna dan 2 spesies parasitik, (Nontji, 1993). Dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi maka hutan mangrove merupakan aset yang sangat berharga tidak saja dilihat dari fungsi ekologisnya tetapi juga dari fungsi ekonomisnya.

Walaupun memiliki kemanfaatan yang sangat tinggi keberadaan hutan mangorve di Indonesia mengalamai keterancaman yang serius. Keterancaman tersebut terlihat dari tingginya aktifitas konversi lahan mangrove untuk tujuan tertentu yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Pengalihan fungsi hutan mangrove menjadi lahan pertanian pasang-surut, perikanan, pemukiman dan industri adalah ancaman yang paling besar terhadap eksistensi hutan mangrove. Selain itu, sekitar 300.000 ha hutan mangrove telah hilang akibat penebangan liar, pembangunan di kawasan pesisir dan polusi yang berasal dari daratan yang terjadi di kawasan Indonesia bagian barat. Lebih dari 1 juta ha lainnya di peruntukkan sebagai hutan produksi. Sementara di kawasan Indonesia bagian timur kondisinya tidak separah di bagian barat, (Jameson et al., 1995). Di wilayah pesisir utara pulau Jawa misalnya, berdasarkan data Landsat-TM diketahui bahwa kini tinggal 21.195 ha hutan mangrove, sementara luas tambak sudah mencapai 118.383 ha, (Republika, 12-04-2000).

Ancaman lainnya terhadap keberadaan hutan mangrove yang cukup serius saat ini berasal dari program pemerintah untuk meningkatkan ekspor produksi perikanan khususnya udang yang dikenal dengan PROTEKAN (Program Peningkatan Ekspor Hasil Perikanan) 2003. Program ini ditujukan untuk meraih target perolehan devisa negara sebesar 10 miliar dolar dari sektor perikanan pada tahun 2003. Diharapkan sebanyak 6,79 miliar dolar (66,6%) diperoleh dari kegiatan budidaya tambak udang. Untuk itu pemerintah akan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi budidaya tambak baik melalui pembangunan maupun rehabilitasi jaringan irigasi teknis yang ada. Khusus untuk ekstensifikasi, program ini menargetkan untuk membuka tambak baru seluas 123.800 hektar, sedangkan untuk intensifikasi akan diarahkan pada areal tambak seluas 256.555 hektar sehingga pada tahun 2003 nantinya luas tambak seluruhnya adalah 380.355 hektar. Untuk mencapai target tersebut tidak ayal lagi akan terjadi konversi hutan mangrove menjadi tambak yang makin memperbesar tekanan terhadap eksistensi sumber daya hutan mangrove. Lebih dari itu, perubahan fungsi hutan mangrove menjadi tambak akan mengurangi benefit mangrove, hilangnya pendapatan masyarakat lokal, kerusakan lingkungan pesisir, dan tekanan internasional akibat kerusakan biodiversitas sehingga berimplikasi pada penolakan ekspor udang Indonesia.

Untuk mendukung program tersebut dibutuhkan faktor pendukung lainnya seperti benur, pakan, pupuk, pestisida, kapur, bahan bakar minyak, oli, induk udang, artemia dan pakan buatan. Selain itu diperlukan paling sedikit 540 unit panti pembenihan berskala besar (kapasitas produksi 67,5 miliar) dan 4.000 unit skala kecil (kapasitas 12 miliar benur). Keberadaan faktor pendukung berupa berbagai bahan kimia seperti pakan dan obat-obatan (pestisida, pupuk dan antibiotik) dalam jumlah yang relatif banyak akan berdampak pada berkurangnya usia tambak disebabkan oleh sisa makanan dan akumulasi sisa-sisa bahan kimia sera kelebihan dosis pupuk yang dalam waktu tertentu bisa menjadi racun yang mematikan udang dan ikan.

Program ini cenderung berfokus pada pencapaian target ekspor sehingga strategi yang digunakan mengarah pada investasi padat modal (capital intensive). Akibatnya program ini akan memberikan peluang yang lebih besar kepada pemodal untuk berinvestasi pada sektor tersebut dan membesar jurang antara petani dengan pengusaha besar. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut perlu dicari format dan aturan yang jelas sehingga tidak mengekploitasi lingkungan dan petani, termasuk juga aturan yang dapat menjamin keselamatan dan hak-hak masyarakat setempat.
Padang Lamun (Sea grass beds)

Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup diperairan dangkal dan hidup terbenam dalam laut. Tumbuhan ini tersusun dari rhizome atau batang yang terbenam dan merayap secara mendatar serta berbuku, daun dan akar. Lamun tumbuh tegak, berdaun tipis yang bentuknya mirip pita dan berakar jalan, dan membentuk padang yang luas dan lebat di dasar laut yang masih terjangkau oleh sinar matahari. Pada buku-buku dari rhizoma ini tumbuh akar dan batang pendek yang tegak ke atas, berdaun, dan berbunga. Dengan rhizoma dan akar inilah tumbuhan tersebut dapat menancapkan diri dengan kokoh di dasar laut sehingga tahan terhadap hempasan gelombang dan arus. Berbeda dengan tumbuhan lain yang hidup terendam di dalam laut (seperti ganggang atau alga laut), lamun berbuah dan menghasilkan biji. Untuk menghasilkan buah, lamun memiliki sistem pembiakan yang bersifat khas karena mampu melakukan penyerbukan di dalam air (hydrophilous pollination). Pada umumnya lamun dapat hidup pada semua tipe dasar laut, tetapi padang lamun (sea grass beds) yang luas hanya dijumpai pada dasar laut lumpur berpasir lunak dan tebal dan biasanya terdapat di perairan laut antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang sangat tinggi produktivitas organiknya.

Sebaran geografis lamun berpusat di dua wilayah yaitu Indo Pasifik Barat dan Karibia dimana jenis yang terdapat di Indo Pasifik Barat lebih banyak dibandingkan dengan yang terdapat di Karibia. Jenis tumbuhan berbunga di laut lebih sedikit dibandingkan dengan di darat karena di laut terdapat hanya 12 jenis (spesies) yang tergolong dalam tujuh marga. Ke tujuh marga yang terdiri dari tiga marga suku Hydrocharitaceae dan 4 marga suku Potamogetonaceae banyak dijumpai di perairan Indonesia seperti di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang memiliki berbagai fungsi penting dan kegunaan. Lamun memfiksasi sejumlah karbon organik dan sebagian besar memasuki rantai makanan di laut. Dengan perkataan lain lamun merupakan sumber utama produktivitas primer dan sumber makanan penting bagi berbagai organisme laut. Padang lamun juga berfungsi sebagai daerah asuhan (nursery ground) dan daerah perlindungan bagi berbagai jenis udang dan ikan serta biota laut lainnya. Daun lamun berperan sebagai tudung pelindung yang menutupi penghuni padang lamun dari sengatan sinar matahari. Vegatasi lamun yang lebat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan ombak serta menyebabkan perairan disekitarnya tenang. Oleh karena itu, padang lamun dapat mencegah terjadinya erosi dan dapat menangkap sedimen yang kemudian diendapkan dan distabilkan. Lamun dapat digunakan sebagai bahan makanan hewan dan juga manusia serta sebagai bahan baku dalam pembuatan kertas dan pupuk. Masyarakat di pulau Seribu telah lama memanfaatkan biji samo-samo (Enhalus acoroides) sebagai bahan makanan setelah dicampur dengan kelapa, (Hutomo et.al. 1987).

Tekanan terhadap ekosistem lamun terutama berasal dari kegiatan pengerukan dan reklamasi (penimbunan) laut yang dilakukan untuk keperluan industri maupun pembangunan pelabuhan yang merupakan faktor penyebab kerusakan ekosistem padang lamun. Hal ini mengakibatkan berkurangnya luas areal padang lamun serta rusaknya ekosistem padang lamun yang pada gilirannya akan mempengaruhi biota yang hidup dan mencari makan di ekosistem tersebut. Faktor lain penyebab rusaknya padang lamun adalah pencemaran air laut termasuk pembuangan limbah garam dari kegiatan desalinasi dan fasilitas-fasilitas produksi minyak, pencemaran oleh aktivitas industri, limbah air panas dari pembangkit listrik dan sebagainya.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s